Loading...

Kamis, 01 Maret 2012

Analisis Naskah Drama "Domba-Domba Revolusi" karya B. Soelarto


ANALISIS NASKAH DRAMA
DOMBA-DOMBA REVOLUSI
KARYA B. SOELARTO




Abstract

          Story of the hardness of a man who lived with his wife who is not a perfect third. He became the ears, mouth, feet and eyes for his wives. With language that is very touching and full of wisdom. Rigidity that was brought to so many trials that seemed to test the strong-weak would a patience. With the first wife to be someone who can not disclose anything with his verbal and understands a sound with his hearing but literature works written in the form of drama and toughness to be excess. The second wife was present at the request of the first wife be an impossible to do something with the footsteps that can only be seated in a wheelchair but cold hands that caused the house like a paradise. And the third wife who was taken by the second wife who is a lovely girl who require eye because her life is dark. So brave of his wives so he should take the option of polygamy. Polygamy is an issue for her own psychology.

Key words:    Hardness, literature, drama, psychology


LATAR BELAKANG

          Karya sastra merupakan hasil aktivitas manusia yang hidup dalam masyarakat dengan segenap persoalan. Sastra merupakan hasil ciptaan manusia yang meng-ekspresikan pikiran, gagasan, pemahaman, dan tanggapan perasaan penciptanya, tentang kehidupan dengan menggunakan bahasa yang imajinatif dan emosional.
          Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu.
          Karya sastra pada umumnya berisi tentang permasalahan yang melengkapi kehidupan manusia. Permasalahan itu dapat berupa permasalahan yang terjadi dalam dirinya sendiri. Karena itu, karya sastra memiliki dunia sendiri yang merupakan hasil dari pengamatan sastrawan terhadap kehidupan yang diciptakan itu sendiri baik berupa novel, puisi maupun drama yang berguna untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Dewantara mengungkapkan bahwa setiap manusia merupakan individu yang berbeda dengan individu lainnya. Manusia mempunyai watak, temperamen, pengalaman, pandangan, dan perasaan sendiri yang berbeda dengan lainnya.
          Sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Sastra merupakan segala sesuatu yang ditulis dan dicetak. Selain itu, sastra merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya daripada karya nonfiksi. Perbedaan utama antara fiksi dan non fiksi terletak dalam tujuan dan sifat. Non fiksi bersifat aktualitas sedangkan fiksi bersifat realitas. Aktualitas adalah apa-apa yang benar-benar teerjadi sedangkan realitas adalah apa-apa yang dapat terjadi (tetapi belum terjadi). Fiksi sering pula disebut cerita rekaan hasil pengolahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, dan penilaian tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi ataupun pengolahan tentang peristiwa-peristiwa yang hanya berlangsung dalam khayalan.
            Drama adalah sebuah bentuk tontonan yang mengandung cerita yang dipertontonkan di depan orang banyak yang berupa dialog.
          Berdasarkan uraian di atas karya sastra juga masih ada hubungannya dengan psikologi. Hal ini tidak lepas dari pandangan dualisme yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya terdiri atas jiwa dan raga. Penelitian yang menggunakan psikologi terhadap karya sastra merupakan bentuk pemahaman atas penafsiran karya sastra dari sisi lain.
          Orang dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh dalam sebuah roman atau drama dengan pertolongan psikologi. Andai kata tingkah laku tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan apa yang diketahuinya tentang jiwa manusia, ia telah berhasil menggunakan teori-teori psikologi moderen untuk menjelaskan dan menafsirkan karya sastra.
         

LANDASAN TEORI

Teori Struktural

          Pendekatan struktural merupakan sebuah pendekatan awal dalam penelitian sastra. Pendekatan struktural juga sangat penting bagi sebuah analisis karya sastra. Suatu karya sastra dibangun oleh unsur-unsur yang membentuknya. Unsur tersebut saling mengisi dan berkaitan sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh dalam sebuah karya sastra (Nawang, 2007: 14).
          Menurut Teeuw (1984: 121), strukturalisme sastra adalah pendekatan yang menekankan pada unsur-unsur dalam (segi intrinsik) karya sastra.
          Analisis struktur merupakan prioritas utama sebelum yang lain-lain. Tanpa analisis yang demikian kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dan karya sastra itu sendiri tidak akan tertangkap (Teeuw, 1984: 61). Tujuan analisis struktural adalah membongkar dan memaparkan secara cermat, seteliti, sedetail, dan sedalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua analisis dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984: 135).
          Sebuah struktur mempunyai tiga sifat yaitu totalitas, trasformasi, dan pengaturan diri. Totalitas yang dimaksud bahwa struktur terbentuk dari serangkaian unsur tetapi unsur-unsur itu tunduk kepada kaidah-kaidah sistem itu sendiri. Dengan kata lain, susunannya sebagai kesatuan akan menjadi konsep lengkap dalam dirinya. Transformasi dimaksudkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan hubungan antarunsur menjadi berubah pula. Pegaturan diri dimaksudkan bahwa struktur itu dibentuk oleh kaidahkaidah intrinsik dari hubungan antarstruktur akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang (Piaget dalam Sangidu, 2004: 16).
          Adapun langkah-langkah analisis struktural adalah sebagai berikut:

a.    mengidentifikasikan unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra secara           lengkap dan jelas, mana yang tema dan mana yang tokoh.
b.    mengkaji unsur-unsur yang telah diindentifikasikan sehingga diketahui tema,   alur, penokohan, dan latar dalam sebuah karya sastra, dan
c.    menghubungkan masing-masing unsur sehingga memperoleh kepaduan makna             secara menyeluruh dari sebuah karya sastra (Nurgiyantoro, 2000: 36).

          Stanton (dalam Jabrohim, 1965: 12), mendiskripsikan bahwa unsur-unsur pembangun struktur itu terdiri atas tema, fakta cerita dan karya sastra. Tema adalah gagasan atau ide pokok yang mendasari karya sastra. Fakta cerita terdiri dari cerita, alur, dan latar. Sedangkan sarana sastra biasanya tersiri dari sudut pandang, gaya bahasa, dan suasana, simbol-simbol, imajinasi dan juga cara-cara memilih judul di dalam karya sastra. Fungsi karya sastra adalah memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami secara jelas.

a.    Tema

          Pengertian tema menurut Fananie (2000: 84) mengemukakan bahwa tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000: 70) mengungkapkan bahwa tema adalah makna sebuah cerita yang khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana. Jadi, pada dasarnya tema adalah ide, gagasan dasar yang terdapat dalam karya sastra.

b.    Alur

          Stanton (1965: 14) mengemukakan alur adalah cerita yang berisi kejadian tetapi tokoh-tokoh tersebut adalah unsur penting dalam sebuah cerita. Pentingnya unsur tersebut pada fungsi tokoh yang memainkan suatu peran sehingga cerita tersebut dapat dipahami oleh pembaca. Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000: 113) mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat dan peristiwa yang lain.


c.    Penokohan

          Tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra biasanya merupakan rekaan tetapi tokoh-tokoh tersebut adalah unsur penting dalam suatu cerita. Pentingnya unsur tersebut terletak pada fungsi tokoh yang memainkan suatu peran sehingga cerita tersebut dapat dipahami oleh pembaca. Stanton ( dalam Nurgiyantoro, 2000: 165) mengungkapkan bahwa penokohan adalah gambaran tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan dengan sikap ketertarikan, keinginan, emosi, dan prinsip moral yang dimiliki tikoh-tokoh tersebut. Jadi, penokohan merupakan gambaran terhadap tokoh-tokoh berdasarkan waktu atau karakternya yang dapat diketahui dari ciri fisiologis, psikologis, dan sosiologis.

d.    Latar

          Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (Sudjiman, 1990: 48). Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2000: 26) mengemukakan bahwa latar mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.


Psikologi Sastra
         
          Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan. Penelitian psikologi sastra dilakukan dengan dua cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis (Ratna, 2004: 344). Pada penelitian ini menggunakan cara yang kedua, yakni dengan menentukan sebuah karya sstra sebagai objek penelitian, kemudian menentukan teoriteori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis.
          Siswantoro (2004: 31), menyatakan sastra berbeda dengan psikologi sebab sebagaimana kita pahami sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, dan esay yang diklasifikasikan ke dalam seni, sedangkan psikologi merujuk pada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental. Meski berbeda keduanya memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat karena psikologi mempelajari perilakunya. Labih lanjut, Siswantoro (2004: 32) mengemukakan psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan.
          Sastra dan psikologi mempunyai hubungan fungsional yaitu sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Perbedaannya, gejala dan diri manusia dalam sastra adalah imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia-manusia riil (nyata). Keduanya dapat saling melengkapi dan mengisi untuk memperoleh pemaknaan yang mendalam terhadap kejiwaan manusia (Nawang, 2007: 23).
          Psikologi ditafsirkan sebagai lingkup gerak jiwa, konflik batin tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra secara tuntas. Dengan demikian, pengetahuan psikologi dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam menelusuri sebuah karya sastra secara tuntas (Darmanto, 1985: 164).
          Sebagai disiplin ilmu, psikologi sastra ditopang oleh tiga pendekatan, yaitu (1) pendekatan ekspresif, yaitu aspek psikologi kajian penulis dalam proses kreativitas yang terproyeksi lewat karya sastra, (2) pendekatan tekstual, yaitu mengkaji aspek psikologi sang tokoh dalam sebuah karya sastra, (3) pendekatan reseptif pragmatik yang mengkaji aspek psikologi pembaca yang terbentuk setelah melakukan dialog dengan karya yang dinikmatinya serta proses kreatif yang ditempuh dalam menghayati teks (Aminuddin, 1990: 89).
          Analisis naskah drama Domba-domba Revolusi karya B. Soelarto tinjauan psikologi sastra, menggunakan pendekatan tekstual yaitu mengkaji aspek psikologi tokoh utama dalam sebuah karya sastra. Dalam hal ini, karya sastra merupakan gambaran kejiwaan manusia yang menciptakan karya sastra itu sendiri.



PEMBAHASAN

Analisis Drama “Domba-domba Revolusi” karya B. Soelarto

            B. Soelarto tertarik dalam dunia lakon pada awal dasawarsa 60-an. Dimana naskah ini diperkenalkan pertama kali pada saat itu. Yang mana pada tahun itu memberi semacam gangguan pada dunia kesenian. Semasa pra-Gestapu, Lekra mempolemikkan naskah ini karena dianggap mengejek pemerintah dan kritis terhadap kekuasaan. Naskah ini bercerita tentang peristiwa dalam kehidupan masyarakat yang dialami oleh soerang pengamen keroncong setengah baya ini menjadi inspirasi bagi Sularto dalam menulis naskah drama Domba-domba Revolusi. Yang kemudian dimuat oleh majalah sastra pada tahun 1962.
            Domba-domba Revolusi ditulis dengan gaya sketsa sama seperti gaya Soelarto dalam menulis cerpen. Karena baginya, teknik penulisan cerpen gaya sketsa sesederhana teknik melukis sketsa, nuansa yang memancing tanda tanya sebagai sentuhan estetis maupun renungan filosofis menjadi tidak diperlukan. Peristiwa ini diriwayatkan oleh pengamen keroncong setengah baya yang tidak sempat ditanyai namanya oleh Soelarto. Jadi Soelarto tidak melihat sendiri kejadiannya. Pengamen menceritakan pengalamannya selama perjuangan fisik yang terjadi pada tahun 1948.
            Si pengamen mengalami peristiwa yang cukup dramatis ketika menginap pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung oleh para tentara Belanda selama beberapa hari. Ia mencintai seorang wanita pemilik losmen tersebut dan sempat melayang nyawanya. Hal ini mebuatnya ikut angkat senjata melawan pasukan tentara Belanda, secara tidak langsung menimbulkan semangat patriotiknya. Namun ia tidak ingin menyebut dirinya seorang partisan maupun orang berjasa. Pengamen ini begitu rendah hati sehingga dalam Domba-domba revolusi disebut sebagai seorang penyair. Inilah eksistensi seniman sebagai seorang yang rendah hati.

1. Tokoh-tokoh “Domba-domba Revolusi”

Perempuan      : Seorang pemilik losmen yang menggambarkan tokoh yang baik.

Penyair            : Seorang Tokoh yang paling dianggap benar, berani, dan suci.

Pedagang        : Seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat                              buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan.


2. Sinopsis “ Domba-domba Revolusi “

            Drama Domba-domba revolusi ini mengetengahkan tiga orang dalam satu babak, para pelakunya yaitu perempuan, penyair, dan pedagang yang terdampar pada sebuah losmen di kota yang sedang dikepung tentara Belanda dan hampir direbut pada tahun 1948. Pedagang di sini digambarkan sebagai seorang yang licik, oportunistik, pemeras, dan mempunyai niat buruk mengambil keuntungan dari revolusi kemerdekaan. Mereka hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Namun dirinya mati terbunuh. Sedangkan perempuan pemilik losmen tersebut adalah tokoh baik-baik namun terpaksa membunuh juga demi keselamatannya. Hanya penyairlah yang paling dianggap benar, berani, suci seolah menjadi perlambang cita-cita revolusi tersebut.
            Bermula ketika beberapa orang terjebak dalam sebuah losmen di sudut kota yang sedang dilanda perang. Situasi yang serba sulit, ruang gerak yang terbatas. Tidak ada yang berani keluar dari losmen guna mencari informasi tentang perkembangan situasi di kota selain si penyair. Mereka hanya memikirkan bagaimana mendapat keuntungan dari situasi yang sedang terjadi. Konflik di antara mereka semakin rumit setelah mulai tumbuh benih-benih asmara antara si penyair dengan si perempuan pemilik losmen. Di saat si penyair meninggalkan losmen, si pedagang menggunakan segala kelicikan dan memanfaatkan situasi yang terjadi itu. Pedagang menghasut seluruh penghuni losmen dan mempropaganda. Timbullah permukaan konflik, amarah dan rasa curiga kepada para penghuni losmen. Polemik hadir dan memperburuk suasana, membunuh atau terbunuh, menjebak satu sama lain, menjadi jargon yang dihembuskan suara-suara dusta kelicikan dari si pedagang.
            Dalam kondisi seperti itu tetap saja tak dapat menolak kehadiran benih-benih cinta anata si penyair dengan perempuan pemilik losmen. Bukan hanya pujaan hatinya yang mati diberondong senapan serdadu musuh tapi tak disangka ternyata perempuan yang dicintainya tadi tak lain adalah ibu dari si penyair. "Tuhan, ampunilah arwah mereka yang kubunuh dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang sesat."

3. Unsur intrinsik dalam naskah “Domba-domba Revolusi”

            Drama ini terkesan melodramatik. Dari segi premis, Soelarto mantap dengan tema “Terpaan keadaan gawat, akan menampilkan keaslian mental dan kualitas manusia. Yang emas tetap emas. Yang loyang, tetap loyang”. Penulisan lakon dalam Domba-domba revolusi dititikberatkan dalam segi dialog, jadi bahasanya teramat verbal. Unsur suspence dan klimaks kurang terasa hidup akibat verbalistik dalam pelukisan cerita. Pelakunya di dalam lakon tersebut hanya ditampilkan secara en profil. Jadi tidak tersedia pendalaman satu-persatu watak pada setiap pelakunya. Memerlukan tempo kurang lebih satu bulan untuk merampungkan lakon pertama. Itupun setelah bagian akhirnya dirubah beberapa kali, namun secara keseluruhan bobotnya masih terasa ngambang, dan inilah hasil maksimal yang bisa dicapai oleh sebuah lakon bergaya sketsa.

  1)  Alur/Plot

          Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan atau rangkaian peristiwa berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.  

  a.  Pengenalan

          Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang akan dihadapi penonton.

  Perhatikan penggalan teks drama berikut ini! .
           
Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit,
si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah
keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar
sejak pagi-pagi.
   Dia mengambil tempat duduk seenakknya
di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan.
Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada
dan lirik syaire lagunya,
Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar
dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair.
Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala
sambil menerima hidangannya.

  b.  Pertikaian

          Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.
 
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

  PEDAGANG             :         Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . . (dengan nafas terengah-engah)

  PEREMPUAN          :         Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??

  PENYAIR           :               Ada yang mengikutimu ? (Sambil memeriksa keadaan luar)

             Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk ke dalam tahap pertikaian atau konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa ada bahaya yang menghampiri mereka.

  c. Puncak

          Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini, berkembang hingga  menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran  ingin mengetahui  penyelesaiannya.

Perhatikan  petikan drama berikut ini!

  PENYAIR                 :         Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam             bahaya,                 sekalipun               mereka membela kita ! tapi kita ingin terbebas darinya bukan .. . . ? Tapi. . Tak                mungkin rasanya.

  PEREMPUAN          :         Jadi maksudmu ?

  PEDAGANG             :         Kita. . . .

  PEREMPUAN          :         Kita ikut didalamnya. Dalam mempertahankan kota Tengah?

  PEDAGANG             :         Begitu maksudmu . . . ??

  PENYAIR                 :         Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain, setidaknya kita dapat   dipercaya.

          Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa puncak masalah itu  adalah terjebaknya mereka hingga harus mencari cara atau jalan keluar untuk dapat selamat.

d.  Penyelesaian

          Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan.  Bahkan dapat pula diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga mendorong  penonton untuk mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.

  Perhatikan penggalan teks  drama berikut ini!

          Suara Bom, tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka dengan kerasnya. . . .

          Pada tahap penyelesaian drama ini dapat dilihat bahwa drama ini berakhir dengan tanda tanya karena permasalahan itu di akhiri dengan suara bom dan tembakan tanpa diketahui bagaimana nyawa mereka.


  2)  Perwatakan atau karakter tokoh

          Tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam drama. Dalam cerita, umumnya terdapat tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis). Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

PENYAIR                :         Dalam desakan dan kemiskinan kali ini akal semakin cerik saja, Kau                 berniat untuk memperjual belikannya ?? Tak berotak dan meras berotot kau rupanya. . .?

   PEDAGANG            :         Aku hanya berusaha bertahan hidup dengan caraku. Dan, hanya ini yang           aku bisa.

   PEREMPUAN         :         Masuk akal begitu ?? Siapa yang akan membeli ?? dan pastilah para   tentara akan curiga dengan barang-barang jualanku kelak !! Bodoh kau. . .


  3) Dialog

          Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!  

   PENYAIR                :         Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…

   PEREMPUAN         :         Lalu apa yang Anda kagumi ?

   PENYAIR                :         Pernyataan saudari tadi.

   PEREMPUAN         :         Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…

          Disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh yang bernama penyair dan perempuan. Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan).


4)  Petunjuk laku

          Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku).

Perhatikan petikan drama berikut!

          Penyair menaruh buku dan harmonikanya lalu minum wedang beberapa teguk. Kemudian, pandangannya terarah pada si Pemilik Losmen, dengan sorot mata penuh arti, di tandai dengan senyumannya.

  PENYAIR                 :         Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan. (bingung)

  PEREMPUAN          :         Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??

  PENYAIR                 :         Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur-      unsur rasa kasih sayang begitu murni.

  PEREMPUAN          :         Oo Begitu ??


  5)  Latar atau setting

          Latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar menyangkut tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!

  PENYAIR                 :         Haa. . . Pintar juga mengelak bicara ya. . . jika keadaan di luar sana      menarik perhatianmu, baiklah. Keadaan di luar tambah gawat. Kota ini       praktis dikosongkan sama sekali. Beberapa regu Tentara dan Laska yang           kemarin masih berjaga di beberapa tikungan jalan raya, kini sudah lenyap.

  PEREMPUAN          :         Sedang menyusun strategi rupanya mereka. . .?

  PENYAIR                 :         Semoga saja, Aku tak yakin akan ketahanan kota tengah ini. Seperti   yang kau tahu saja, sekarang hanya kau yang mau dan mampu untuk tetap        tinggal di kampong halamanmu ini. Kota ini nyaris mati . . . . .

          Dari penggalan teks  drama di atas  dapat diketahui bahwa latar cerita tersebut adalah di ssbuah kota yang bernama Kota Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan  kata-kata  tercetak tebal yang  menunjukkan bahwa dialog tersebut dilakukan di sebuah kota.


6)  Tema

          Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema drama misalnya kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan kemiskinan.

Perhatikan penggalan teks drama berikut ini !

   PENYAIR                :         Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan.

   PEREMPUAN         :         Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang sederhana saja ??

PENYAIR                :         Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung unsur-      unsur rasa kasih sayang begitu murni.

  7)  Amanat

          Dalam karyanya, pengarang pasti menyampaikan sebuah amanat.  Amanat merupakan pesan atau nilai-nilai moral  yang bermanfaat  yang terdapat   dalam drama. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara langsung (tersurat), bisa juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Apabila penonton menyaksikan drama dengan teliti, dia dapat menangkap pesan atau nilai-nilai moral tersebut. Amanat akan lebih mudah ditangkap jika drama tersebut dipentaskan.

Perhatikan penggalan  teks drama berikut ini !

  PENYAIR                 :         Ya.. Begitu. Dan baru pertama kali aku merasa bahwa ada seseorang yang         menaruh perhatian terhadap keselamatan diriku. Dan yang memperhatikannya     adalah Wanita.

  PEREMPUAN          :         Ah Bung ini bicara yang bukan-bukan saja.

  PENYAIR                 :         Tapi bagiku tidak. Pernyataan barusan tadi adalah kata hati yang        tulus.. Bukan Omong iseng. Benar Demikian….?

          Tema kutipan teks drama di atas adalah tentang percintaan antara penyair dan perempuan. Tema dalam sebuah cerita, baik novel, maupun drama, tidak semua seperti contoh di atas yang langsung diungkapkan oleh pengarang. Namun, lebih banyak tema sebuah cerita dapat ditentukan setelah membaca keseluruhan cerita.


4.  Contoh Naskah Drama “Domba-domba revolusi”

          Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit, si Penyair sudah tiba kembali di Losmen setelah keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar sejak pagi-pagi.
          Dia mengambil tempat duduk seenakknya di ruang tamu Losmen yang terletak di bagian depan. Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada dan lirik syaire lagunya, Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar dalam dia yang dibalas senyum oleh Penyair. Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala sambil menerima hidangannya.

PEREMPUAN    :       Sudah kuduga, Bung tentu pulang dengan selamat seperti    kemarin pagi. Kalau Bung keluar, aku selalu cemas-cemas           harap. siapa tahu…Bung ditimpa malang. Maklumlah dalam            keadaan begini ada peluru yang sering jatuh salah alamat.

PENYAIR          :       Itulah yang menjadi aku kagum.

PEREMPUAN    :       Bahwa Bung selalu selamat selama ini ?

PENYAIR          :       Bukan, bukan itu. Sebab terus terang saja, aku sendiri           sebenarnya tidak begitu peduli dengan keselamatanku.

PEREMPUAN    :       Aneh…

PENYAIR          :       Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah…

PEREMPUAN    :       Lalu apa yang Anda kagumi ?

PENYAIR          :       Pernyataan saudari tadi.

PEREMPUAN    :       Aku tidak mengerti. Coba jelaskan…

PENYAIR          :       Maksudku pernyataan saudari itu. . . .

PEREMPUAN    :       Ya.. Mengapa ??

PENYAIR          :       Hikmahnya terasa begitu puitis.

PEREMPUAN    :       Apa itu Pu-i-tis ???


          Penyair menaruh buku dan harmonikanya lalu minum wedang beberapa teguk. Kemudian, pandangannya terarah pada si Pemilik Losmen, dengan sorot mata penuh arti, di tandai dengan senyumannya.

PENYAIR          :       Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan.

PEREMPUAN    :       Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang   sederhana saja ??

PENYAIR          :       Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung            unsur-unsur rasa kasih sayang begitu murni.

PEREMPUAN    :       Oo Begitu ??

PENYAIR          :       Ya.. Begitu. Dan baru pertama kali aku merasa bahwa ada   seseorang yang menaruh perhatian terhadap keselamatan              diriku. Dan yang memperhatikannya adalah Wanita.

PEREMPUAN    :       Ah Bung ini bicara yang bukan-bukan saja.

PENYAIR          :       Tapi bagiku tidak. Pernyataan barusan tadi adalah kata         hati yang tulus.. Bukan Omong iseng. Benar Demikian….?

PEREMPUAN    :       Ya, ya Bung tentu saja bisa bicara demikian. Kan Bung        sekarang sudah jauh dari anak dan istri. Jadi, sudah wajar kalau   Bung lalu dijangkiti rasa kesepian. Bukan maksudku            merendahkan martabat lelaki, tetapi naluri lelaki begitulah     pada umumnya.


          Penyair hanya tersenyum sambil tertawa kecil…

PENYAIR          :       Ketahuilah, jangankan beristri, berpacaran pun Aku belum.Namun, Aku dapat memahami kalau saudari akan sulit           mem-percayai omonganku tadi. Sebab sudah menjadi naluri wanita,            selalu penuh prasangka.

PEREMPUAN    :       Bukankah itu naluri yang baik. Tapi baiklah, omongan          Bung tadi Kuanggap saja benar. Dan bagaimana keadaan diluar           sana Bung.. .?

PENYAIR          :       Haa. . .Pintar juga mengelak bicara ya. . . jika keadaan diluar            sana menarik perhatianmu, baiklah. Keadaan di luar tambah        gawat. Kota ini praktis dikosongkan sama sekali.      Beberapa regu                             Tentara dan Laska yang kemarin masih berjaga di beberapa          tikungan jalan raya, kini sudah lenyap.

PEREMPUAN    :       Sedang menyusun strategi rupanya mereka. . .?

PENYAIR          :       Semoga saja, Aku tak yakin akan ketahanan kota tengah ini.            Seperti yang kau tahu saja, sekarang hanya kau yang mau dan     mampu untuk tetap tinggal di kampong halamanmu ini. Kota ini      nyaris mati . . . . .

PEREMPUAN    :       Aku tak punya banyak pilihan…(Melihat kearah lain)

PENYAIR          :       Baiklah.. Aku tak ingin menanyakannya sekarang.


          DIAM. . . . . (Penyair menyelurup wedang jahenya)

PENYAIR          :       Terkadang hidup pemurah untuk memberikan banyak           pilihan. Tapi untuk saat ini, di tengah kegetiran masa depan yang terasa sejengkal lagi. Dan di kota Tengah yang kurasa sudah mati tanpa pengharapan, kita tak mempunyai banyak      pilihan, waktu mendesak sesak. Tempat semakin sempit saja,                             waktu mendesak sesak, terhimpit. . . !!!

PEREMPUAN    :       Ya.. Kau benar. Tak banyak yang dapat kita perbuat.            Kata-kata Penyair selalu menghujam dan tepat sasaran,            mengungkap seolah Ia saksi di dalamnya.

PENYAIR          :       Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan sekarang. Di luar       sana kota ini seakan bisu, mereka cepat sekali bertindak membuat         kita tak dapat berkutik dan. . . . . . .


          Tiba-tiba Pedagang masuk.

PEDAGANG      :       Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . . (dengan nafas      terengah-engah)

PEREMPUAN    :       Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??

PENYAIR          :       Ada yang mengikutimu ? (Sambil memeriksa keadaan          luar)

PEDAGANG      :       (Menggeleng) . . . Tidak.


PENYAIR          :       Masuk dan tutup pintunya. Jadi apa yang kau lihat ? Yang kau        temukan itu ?

PEDAGANG      :       Tak jauh dari sini, tepatnya diBlok seberang kiri seberang     rumah ini, ada tempat penyimpanan senjata para tentara itu.             Katamu daerah ini jauh dari tempat operasi mereka ? Meskipun                             mereka membela kota ini, tetap saja berbahaya untuk kita,            untuk kepercayaan mereka.
PEREMPUAN    :       Entahlah.. Aku yakin daerahku ini paling ujung di pelosok, mereka tak mungkin membentuk pertahanan ketat di daerah ini.            Seharusnya dimuara perbatasan selatan. Logikanya begitu. . .

PEDAGANG      :       Apa mungkun ini bukan persiapan pertahanan atau melainkan          penyerangan. . . .??

PENYAIR          :       Kau gila. . .?? Habislah Kita. . .!!! Jarak kita dengan             tempat penyimpanan itu hanya tak sampai 1000 langkah. Cepat   atau lambat mereka akan menemukan kita.

PEREMPUAN    :       Para tentara dan laskar itu takkan percaya dengan warga      sipil, sekalipun nenek moyang kota Tengah semuanya sudah             mereka amankan. ”Istilahnya” ke tempat lain. Tak sadarkah             kalian kita hanya bertiga disini. . .??

PEDAGANG      :       Tenang. . . .Tenang. . . . . Tempat itu tak berpenjaga. Aku     sudah berkeliling memeriksanya.

PEREMPUAN    :       Sebentar. . .berkeliling . .? Memeriksanya . . ? Kau katakan tadi       pagi bahwa kau tak berani untuk melihat keadaan di luar. Kau lebih       memilih menjaga dirimu sendiri. Tapi kau berkeliling dan                             memeriksanya. .?

PENYAIR          :       Dalam desakan dan kemiskinan kali ini akal semakin cerik    saja, Kau berniat untuk memperjual belikannya ?? Tak berotak dan    meras berotot kau rupanya. . .?

PEDAGANG      :       Aku hanya berusaha bertahan hidup dengan caraku. Dan,     Hanya ini yang aku bisa.

PEREMPUAN    :       Masuk akal begitu ?? Siapa yang akan membeli ?? dan         pastilah para tentara akan curiga dengan barang-barang jualanku          kelak !! Bodoh kau. . .

PEDAGANG      :       Kau tak berfikir, Kita hidup dengan apa . . .? ?

PEREMPUAN    :       Kau masih berfikir dengen perutmu !? Kau tidak berfikir      tentang keselamatan kita ??

PEDAGANG      :       Masih untung aku memikirkan perut-perut kalian, tenaga      kalian, untuk kta juga bertahan !!.
PEREMPUAN    :       Hei Kau. . . . Kau Pikir tindakanmu hanya beresiko untuk    dirimu saja. .? Arghh. . . .bodohnya Kau, , , Jika kau    mengambil barang-barang itu, Kau jual pada tentara musuh,             maka mereka akan menguasai kota Tengah dan    mengalahkan   tentara-tentara kita. Menguasai kota Tengah, musuh jelas     merugikan tak lebih baik dari penguasa yang sekarang. Maka     tempat ini. . . Losmen             ini. . . Tak tahu aku akan diapakan.

PEDAGANG      :       Itu. . . .

PEREMPUAN    :       Ya.Itu tak pernah terpikir olehmu ! Karena, Kau . Oh           tuhan.


          Pedagang terdiam . . . . . . . .

PENYAIR          :       Sudahlah . . . . ini takkan berakhir. Kau (Menunjuk   Pedagang)       Cobalah berfikir rasional, gunakan otakmu itu.

PEREMPUAN    :       Kau . . .(Menunjuk Pedagang) Bahaya !! Bahaya Semua,      resiko kau, resiko kita ! Coba Kau berpikir.

PEDAGANG      :       Baik . . . Aku mengerti !

PEREMPUAN    :       Lalu sebaiknya. . . .

PENYAIR          :       Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam           bahaya, sekalipun mereka membela kita ! tapi kita ingin terbebas           darinya bukan . . . ? Tapi. . . Tak mungkin rasanya.

PEREMPUAN    :       Jadi maksudmu ?

PEDAGANG      :       Kita. . . .

PEREMPUAN    :       Kita ikut didalamnya. Dalam mempertahankan kota             Tengah?

PEDAGANG      :       Begitu maksudmu . . . ??

PENYAIR          :       Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain, setidaknya kita           dapat dipercaya.

          Suara Bom, tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka dengan kerasnya. . . . . . . .
5. Gaya Bahasa “ Domba-domba revolusi”

1.  Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat .

Adegan IV

PEDAGANG      :       Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . . (dengan nafas      terengah-engah)

PEREMPUAN    :       Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??

PENYAIR          :       Ada yang mengikutimu ? (Sambil memeriksa keadaan          luar)

PEDAGANG      :       (Menggeleng) . . . Tidak.


PENYAIR          :       Masuk dan tutup pintunya. Jadi apa yang kau lihat ? Yang kau        temukan itu ?

PEDAGANG      :       Tak jauh dari sini, tepatnya diBlok seberang kiri seberang     rumah ini, ada tempat penyimpanan senjata para tentara itu.             Katamu daerah ini jauh dari tempat operasi mereka ? Meskipun                             mereka membela kota ini, tetap saja berbahaya untuk kita, untuk             kepercayaan mereka.

PEREMPUAN    :       Entahlah.. Aku yakin daerahku ini paling ujung di pelosok, mereka tak mungkin membentuk pertahanan ketat di daerah ini.            Seharusnya dimuara perbatasan selatan. Logikanya begitu. . .

PEDAGANG      :       Apa mungkun ini bukan persiapan pertahanan atau melainkan          penyerangan. . . .??

PENYAIR          :       Kau gila. . .?? Habislah Kita. . .!!! Jarak kita dengan tempat             penyimpanan itu hanya tak sampai 1000 langkah. Cepat atau       lambat mereka akan menemukan kita.


2. Paralelisme adalah gaya bahsa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris atau kalimat.

Adegan  I

PENYAIR          :       Hikmahnya terasa begitu puitis.

PEREMPUAN    :       Apa itu Pu-i-tis ???


3. Epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
 
Adegan IV

PENYAIR          :       Terkadang hidup pemurah untuk memberikan banyak           pilihan. Tapi untuk saat ini, di tengah kegetiran masa depan yang terasa sejengkal lagi. Dan di kota Tengah yang kurasa sudah mati tanpa pengharapan, kita tak mempunyai banyak      pilihan, waktu mendesak sesak. Tempat semakin sempit saja,                             waktu mendesak sesak, terhimpit. . . !!!


4. Hiperbola adalah gaya bahasa yang bemberikan pernyataan yang berlebih-lebihan

Adegan II

PENYAIR          :       Hemm.. Begini. Maksudku pernyataanmu tadi mengandung            unsur-unsur rasa kasih sayang begitu murni.


5. Sarkasme adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.

 Adegan V

PEREMPUAN    :       Masuk akal begitu ?? Siapa yang akan membeli ?? dan         pastilah para tentara akan curiga dengan barang-barang jualanku          kelak !! Bodoh kau. . .








SIMPULAN


          Sastra merupakan hasil ciptaan manusia yang mengekspresikan pikiran, gagasan, pemahaman, dan tanggapan perasaan penciptanya, tentang kehidupan dengan menggunakan bahasa yang imajinatif dan emosional. sastra merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya daripada karya nonfiksi.
          Dengan mempelajari sastra kita akan mengenal yang namanya karya sastra. Karya sastra pada umumnya berisi tentang permasalahan yang melengkapi kehidupan manusia. Permasalahan itu dapat berupa permasalahan yang terjadi dalam dirinya sendiri. Dari permasalahan tersebut, dibuatlah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut disebut drama.
     Hasil analisis naskah drama menunjukan bahwa pada drama yang berjudul Domba-domba Revolusi karya B. Soelarto ini memiliki suatu aspek tentang kejiwaan, dimana keseluruhan isi drama dibahas dengan menggunakan pendekatan Psikologi Sastra. Hal atau bagian pada naskah drama yang kentara dengan pendekatan yang diterapkan tersebut, bisa dilihat pada peristiwa ketika Penyair harus memutuskan apakah Ia harus mengambil jalan untuk berperang atau malah berbalik serang.

Berikut ini kutipan yang menunjukan hal tersebut:

PENYAIR :           Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam bahaya,                                 sekalipun mereka membela kita ! tapi kita ingin terbebas darinya bukan . . ?                Tapi. . . Tak mungkin rasanya.
                                         ( Adegan VI )



DAFTAR PUSTAKA



Aminuddin. 1990. Sekitar masalah sastra (beberapa prinsip dan model       pengembangannya). Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

Darmanto, Jatman. 1985. Sastra, psikologi, dan masyarakat. Bandung: Alumni.

Fananie, Zainuddin. 2000. Sastra (Ideologi, Politik, dan Kekuasaan). Surakarta:     Muhammadiyah University Press.

Jabrohim, Daam. 1965. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Koeswara, E. 1986. Teori-teori Kepribadian. Bandung: Eresco.

Nawang, Adnan. 2007. Za’ba dan Melayu. Kuala Lumpur: Universiti Pendidikan Sultan Idris.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Omar, Haji Asmah. 1985. Perencanaan Bahasa dengan Rujukan Khusus kepada    Perancangan Bahasa Malaysia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, metode, dan teknik penelitian sastra (dari        strukturalisme hingga postrukturalisme, perspektif wacana naratif).             Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung:     Diponegoro.

Soelarto, B. 1968. Domba-domba Revolusi. Jakarta: Nusantara.

Sudjiman, P. 1990. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: UI Press.

Teeuw, Andries. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Verhaar, J.M.W. 1983. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: UGM Press.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan (terjemahan). Jakarta:             Gramedia.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  2. mau tanya ya, dalam drama domba-domba revolusi ini, knpa kau lebih memilih mengkaji dengan psikologi sastra? bukan sosiologi sastra?

    BalasHapus