Loading...

Kamis, 01 Maret 2012

Analisis Sajak "Karangan Bunga" Karya Taufik Ismail

ANALISIS SAJAK


KARANGAN BUNGA
Karya Taufik Ismail
            Tiga anak kecil
            Dalam langkah malu-malu
            Datang ke Salemba
            Sore itu.
            Ini dari kami bertiga
            Pita hitam pada karangan bunga
            Sebab kami ikut berduka
            Bagi kakak yang di tembak mati
            siang tadi’
            Alma Mater, janganlah bersedih
            Bila arakan ini bergerak pelahan
            Menuju pemakaman
            Siang ini
            Anakmu yang berani
            Telah tersungkur ke bumi
            Ketika melawan tirani


Taufiq Ismail lahir di Bukit Tnggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.Hasil karyanya tirani 1966.
Pada bait pertama, tiga anak kecil yang masih mempunyai hati yang suci dan lembut dalam langkah hati-hati dengan penuh keyakinan dan keraguan datang ke salemba dengan raut wajah yang penuh dengan kesedihan.
Pada bait kedua, sebuah pita hitam dari kami bertiga sebagai tanda berbela sungkawa yang diletakkan pada karangan bunga, tiga anak kecil itu turut berduka cita, bagi mahasiswa yang telah tertembak mati siang itu untuk menentang pemerintah orde lama untuk mewujudkan pemerintah orde baru yang dapat membuat bangsa Indonesia lebih bermartabat.
Pada bait ketiga, mahasiswa berjaket almamater biru tua yang bersimbah darah gugur di halaman kampusnya sendiri, ditembus peluru ’karet’ yang pastinya sangat tajam hingga dada-dada para pemuda harapan bangsa itu penuh darah dan jatuh sebagai pahlawan.
Pada bait keempat, anak bangsa yang gagah berani itu telah dikebumikan, perlawanan mahasiswa melawan orde lama, melawan kemiskinan yang menjepit rakyat, melawan tirani. meski dengan sikap itu para mahasiswa harus mempertaruhkan nyawanya demi almamater.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar