Loading...

Jumat, 21 Oktober 2011

Asal Mula dan Hakikat Bahasa

          A.   ASAL MULA BAHASA

Sampai saat kini masih terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan masalah asal mula bahasa, kapan bahasa pertama ada di dunia, bahasa apa yang pertama digunakan manusia, serta bagaimana manusia menguasai bahasa. Bahkan para ahli belum bisa memberikan jawaban ataupun penjelasan yang bisa dianggap memuaskan.
Penelusuran akan jejak kehidupan nenek moyang manusia di muka bumi sampai sekarang belum menemukan bukti-bukti langsung mengenai bahasa nenek moyang terdahulu. Tidak ada catatan atau rekaman yang dapat memberikan informasi bagaimana wujud bahasa pada tahap-tahap awal tersebut. Karena ketidakadaannya bukti-bukti fisik semacam itu, teori yang memuat spekulasi tentang asal mula bahasa manusia tidak pernah berujung. Para ahli linguistik dan para ahli bidang ilmu lainnya tak henti-henti berspekulasi tentang teka-teki asal mula bahasa. Namun, hasilnya lebih banyak merupakan fantasi karena tidak didukung oleh data empirik yang meyakinkan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa cerita, eksperimen, dan pendapat tentang asal mula bahasa  :

·         Sekitar abad ke-17 SM  Raja Mesir Psammetichus mengadakan eksperimen terhadap bayi yang dibesarkan di hutan belantara dengan pola pengasuhan yang tanpa bersentuhan dengan pemakaian bahasa apapun. Setelah berusia dua tahun, bayi tersebut dilaporkan oleh pengasuh suruhan istana dapat mengucapkan kata pertamanya “becos” yang berarti ‘roti’ dalam bahasa Phrygia (bahasa Mesir kuno). Banyak orang Mesir yang mempercayai bahwa bahasa Mesirlah yang merupakan bahasa pertama manusia.

·         Sekitar tahun 1500 M, Raja James IV dari Skotlandia mengadakan eksperimen terhadap seorang bayi yang dibesarkan tanpa bersentuhan dengan penggunaan bahasa. Pada perkembangan berikutnya, bayi tersebut dilaporkan memiliki kemampuan berbahasa Ibrani.
·         Pada akhir abad XVII seorang filsuf bangsa Swedia yang bernama Andreas Kemke menyatakan bahwa di surgaTuhan berbicara dalam bahasa Swedia, Adam berbahasa Denmark, sedangkan naga berbahasa Prancis.
·         Goropus Becanus, seorang bangsa Belanda, berpendapat bahwa bahasa yang dipergunakan oleh Adam adalah bahasa Belanda.
·         Seorang filsuf Jerman, Leibniz mengemukakan pandangan bahwa semua bahasa di dunia berasal dari bahasa Proto.

Namun, baik pendapat Kemke, Goropus, maupun Leibniz tidak didukung oleh bukti-bukti yang sahih, sehingga pendapat mereka dianggap sebagai hasil rekayasa imajinasi belaka.
Dapat disimpulkan bahwa upaya manusia dalam menelusuri asal mula bahasa lebih bernuansa mitos karena tidak berdasar pada fakta dan teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Terdapat beberapa teori yang ada, bahwa bahasa bersumber dari Tuhan, bunyi alam, isyarat lisan, dan teori yang mendasarkan pada kemampuan manusia secara fisiologis.
Dalam kebanyakan agama diyakini bahwa Tuhan melengkapi penciptaan manusia dengan bahasa. Namun, berbagai kisah dalam agama-agama itu belum membantu untuk mengetahui dan mengungkap apa sesungguhnya bahasa, serta bagaimana manusia memulai penggunaan bahasa.
Pandangan lain tentang asal mula bahasamanusia didasarkan pada konsep bunyi-bunyi alam. Menurut Socrates, menyatakan bahwa onomatopea atau peniruan bunyi-bunyi alam merupakan dasar asal mula bahasa. Sejalan dengan pandangan Socrates, Max Mueller (1825-1900) seorang bangsa Jerman mengemukakan Dingdong Theory atau Nativistic Theory yang meyakini bahwa bahasa timbul secara alamiah karena manusia mempunyai insting yang istimewa untuk mengeluarkan ekspresi ujaran bagi setiap pesan yang datang dari luar. Selanjutnya Teori Bow-bow atau Echoic Theory menjelaskan bahwa bahasa manusia merupakan tiruan bahasa alam.
Tetapi ternyata teori-teori yang dikemukakan tersebut mendapat banyak kritik karena teori-teori tersebut tidak dapat membuktikan semua ‘kata’ dapat dihubungkan dengan bunyi-bunyi alam.
Selain teori-teori sebagaimana yang telah dijelaskan, masih ada teori lain mengenai asal mula bahasa dengan fokus pada aspek-aspek fisik manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Teori ini disebut Teori Adaptasi Fisiologis. Teori ini didasari asumsi bahwa manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain yang ada di muka bumi.
Teori Adaptasi Fisiologis sejalan dengan perkembangan Psikolinguistik. Sekaitan dengan itu, Brooks (1975) seorang pakar Psikolinguistik menyatakan bahwa bahasa itu lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia. Dalam menyokong pendapatnya, Brooks mengemukakan hipotesis nurani (the inneteness hypothesis) yang menegaskan bahwa manusia itu ketika lahir dilengkapi dengan kemampuan “nurani” yang memungkinkan mempunyai kemampuan berbahasa.
Uraian-uraian itu, sebenarnya mengimplisitkan bahwa upaya selanjutnya yang dilakukan manusia bagi kepentingan memahami dan mengkaji bahasa ialah dengan berfilsafat mengenai bahasa dan membuat rumusan yang filosofis tentang aspek hakikat bahasa.


B.     HAKIKAT  BAHASA

Berbahasa merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Menyampaikan ide, menyatakan rasa senang, menerima informasi, menanyakan sesuatu, dan kegiatan berkomunikasi lainnya, bahkan melamun, berdoa, dan bermimpi sekalipun menggunakan bahasa. Arti bahasa bisa dilihat tergantung dari sudut mana orang melihat bahasa tersebut.

Hakikat bahasa Yang dikemukakan para penganut Tata Bahasa Struktural, antara lain:

1.      Bahasa merupakan Suatu Sistem
Bahasa bersifat sistematik dan sistemik karena bahasa memiliki kaidah atau pola yang teratur terdiri atas subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, subsistem semantik, dan subsistem leksikon, yang saling bergantung satu sama lain. 

2.      Bahasa merupakn Simbol atau Lambang
Bahasa merupakan perpaduan dua unsur, yaitu signifiant/signifier (konsep penanda/yanh menandai dan signifie (konsep petanda/yang ditandai).
Menurut Ferdinad de Saussure (Bapak Linguistik Modern) sistem bahas antara lain:
·                      Languge (semua bahasa) adalah istilah yang merujuk pada pengertian semua bahasa yang dimiliki manusia dan digunakan sebagai alat komunikasi.
·         Langue (bahsa tertentu) adalah istilah bahasa yang merujuk pada pengertian salah satu sistem bahasa tertentu. Contoh: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahaa Sunda, dan lain-lain.
·         Parole (ujaran) adalah istilah bahsa yang merujuk pada ujaran seseorang yang menggunakan bahasa tertentu.


3.      Bahasa Bersifat Arbitrer dan Konvesional
Setiap bahasa bersifat arbitrer. Yang artinya antara bentuk bahasa dan makna bahasa tidak ada aturan yang mengikat bersifat manasuka. Kemanasukaan di sini masih dalam batas konvensi (kesepakatan) pemakainya.
Adanya kesepakatan atau ciri konvensional sebenarnya menjadi pembatas bagi kemanasukaan bahasa. Kemanasukaan harus disepakati oleh para pemakai bahasa itu agar mudah dipahami. Kesepakatannya berbentuk tacit agreement, yaitu pola kesepakatan sama-sama tahu atau kesepakatan diam antara pemakai suatu bahasa.

4.      Bahasa Dihasilkan oleh Alat Ucap
Tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap adalah bahasa, meskipun dalam pengertiannya bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap.
Bunyi dengusan,siulan dan sejenisnya hanyalah isyarat atau tanda tertentu saja. Maka, yang disebut bahasa adalah simbol-simbol bunyi yang dikeluarkan oeh alat bicara ayau alat artikulasi, baik untuk kepentingan menyandi pesan (encoding) maupun untuk memecahkan sandi pesan (decoding) menjadi pesan bermakna dalam kegiatan berkomunikasi. Sebenarnya tulisan itu hanya transkripsi (salinan) dari ujaran (bahasa sebenarnya).


Pandangan Sosiolinguistik atau Sosiologi Bahasa
Dalam pandangan sosiolinguistik hakikat bahasa bukan hanya sekedar “bunyi bersistem”, tetapi harus dikaitkan dengan pengguna bahasa itu sendiri. Ini berarti bahwa Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai gejala sosial dan kebudayaaan tertentu.


Pandangan Psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan ilmu yang menelaah hubungan anatara gejala kejiwaan (psike) dan bahasa (linguistik).
            Psikolinguistik memandang bahasa sebagai hasil proses mental. Dalam Psikolinguistik kegiatan bahasa bukan hanya berlangsung secara mekanistik, tetapi juga berlangsung secara mentalistik.
Artinya, kegiatan bahasa itu berkaitan dengan proses atau kegiatan mental (kejiwaan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar